Tantrum Bukan Drama: Cara Membantu Balita Mengelola Emosi

Sore itu di halaman depan, putri saya yang baru tiga tahun tiba-tiba menjerit dan berguling-guling karena eskrimnya jatuh. Sebagai ibu bekerja, saya sempet panik. Tapi setelah lima tahun nulis tentang pengasuhan, saya belajar bahwa tantrum bukanlah musuh—melainkan sinyal bahwa otak kecilnya sedang belajar mengelola perasaan. Berikut satu pendekatan yang paling membantu saya.
Langkah Sederhana Menghadapi Tantrum Balita
Tetap tenang dan jangan ikut emosi. Anak menangkap energi kita. Kalau kita panik, tantrum malah makin panjang. Tarik napas, duduk sejajar dengan anak, dan tunggu sampai gelombang amarahnya reda. Saya biasanya berbisik, "Ibu di sini," tanpa banyak bicara. Terkadang butuh waktu sebntar, tapi hasilnya beda banget.
Validasi perasaan, bukan perilaku. Ucapkan "Kamu sedih karena eskrimnya jatuh, ya?" daripada "Jangan nangis!" Validasi bikin anak merasa dipahami, dan amarahnya perlahan kehilangan bahan bakar. Hindari menghakimi atau memberi solusi terlalu cepat. Dulu saya sering salah langkah, lalu baru sadar setelah baca-baca.
Alihkan dengan objek atau aktivitas lain. Setelah anak mulai tenang, tawarkan pilihan terbatas, misalnya "Mau minum air atau main bola?" Otak balita belum bisa proses banyak pilihan; dua udah cukup. Teknik ini mengurangi gesekan sebelum tantrum pecah lagi. Praktis banget buat ibu-ibu yang lagi buru-buru.
Tentukan batasan jelas setelah reda. Anak perlu tahu bahwa meskipun perasaannya sah, perilaku seperti mukul atau lempar barang tidak boleh. Setelah ia benar-benar tenang, saya ajak duduk sebntar dan bicara pelan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan lain kali. Saya juga kadang minta maaf kalau nada suara saya keburu tinggi.
Dari pengalaman saya, konsistensi jadi kuncinya. Tidak semua tantrum bisa dihindari, tapi setiap kali kita merespons dengan tenang dan penuh pengertian, kita sedang menanamkan keterampilan emosi yang akan ia bawa sampai besar. Pelan-pelan, anak belajar bahwa perasaan marah gak perlu ditakuti—cukup dikenali dan diungkapkan dengan cara yang lebih baik. Seperti eskrim yang jatuh tadi, kami akhirnya membuat eskrim baru bareng, dan dia tersenyum lagi. Itulah tumbuh kembang yang sesungguhnya Catatan paralel ada di tumbuh kembang praktis.
Untuk informasi lebih dalam tentang perkembangan emosi anak, lihat artikel di Wikipedia Indonesia tentang perkembangan anak.
Catatan: sumber resmi